Terikat Aturan
Pesantrenku adalah pesantren yang unik. Rutinitasnya pun memiliki banyak kesamaan dengan pesantren modern lainnya. Kegiatan belajar mengajarnya sama persis seperti sekolah pada umumnya. Hanya saja, penghuni kelas seluruhnya adalah perempuan. Kebetulan pula, kelasku dipenuhi oleh 57 orang perempuan –yang mayoritas pada cerewet. Jadi ya gitu belajarnya pun kadang efektif, kadang gak terlalu. Aku senang bersekolah di pesantren yang unik. Apa lagi kalo soal peraturan. Peraturan yang selalu diulang-ulang pembacaannya saat upacara bulanan oleh sang pimpinan pondok untuk tidak dilanggar. Tapi apa boleh buat kalo semisalnya manusia itu gak luput dari yang namanya kesalahan. Apa boleh buat kalo kita para santri yang masih pada periode yang istilahnya ‘labil’. Kan kita juga sama kaya remaja-remaja pada umumya. Ya gak? Aku sedikit ragu buat nulis ini. Ada yang ngasih saran buat nyeritain sesuatu tentang pengalaman aku melanggar yang namanya peraturan. Tapi plis, jangan ditiru, ya. Apa lag...